Rabu, 04 Maret 2015

CINTA TAK TERBALAS

Satu lagi film yang diangkat dari novel terkenal akan dirilis tahun ini yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini diadaptasi dari novel dengan judul sama karya sastrawan terkenal Buya Hamka pada tahun 1938. Novel ini bercerita tentang kisah cinta dua insan, tapi dipisahkan oleh tradisi adat. Ada dua adat yang ada dalam novel ini yaitu Budaya Minangkabau dan Budaya Bugis. Sang penulis Buya Hamka beranggapan bahwa beberapa tradisi adat tersebut tidak sesuai dengan dasar-dasar Islam ataupun akal budi yang sehat.

Cinta yang dirasakan Zainuddin adalah cinta yang tidak sampai karena terhalang oleh adat yang sangat kuat. Cinta ini bermulai ketika Zainuddin sudah tidak punya orang tua lagi atau yatim piatu. Ayah Zainuddin adalah suku Minangkabau asli, dia diasingkan dan dibuang ke Makassar karena telah membunuh seseorang kerabat yang disebabkan masalah warisan. Ayah Zainuddin meninggal di Makassar. Ibu Zainuddin adalah suku bugis (orang Makassar), yang meninggal sebelum wafatnya ayah Zainuddin.Pada awalnya Zainuddin tinggal di Makassar dengan  teman ayahnya, Mak Base. Kemudian Zainuddin pindah ke Batipuh Kabupaten Tanah Datar di Sumatra Barat.
Karena Zainuddin adalah campuran orang Minangkabau dan Bugis, banyak perlakuan buruk yang ditujukan kepadanya, baik di Makassar maupun di Minangkabau, karena kuatnya adat istiadat masyarakat pada saat itu. Salah satu diskriminasi yang dirasakan Zainuddin adalah ketika dia mencintai Hayati yang merupakan seorang anak dari bangsawan Minangkabau. Karena kecewa,  Zainuddin kemudian  pindah ke Kota Padangpanjang yang berjarak sekitar 10 km dari Batipuh. Zainuddin tetap melakukan surat-menyurat dengan Hayati. Hayati lalu datang ke Padangpanjang, karena dia ingin bertemu Zaiuddin di acara balapan kuda. karena dia punya seorang kawan yang bernama Khadijah, lalu Hayati menginap di rumahnya. Khadijah mempunyai kakak laki-laki yang bernama Aziz yang diam-diam naksir pada Hayati.

Karena bermukim pada satu kota (padangpanjang) akhirnya Azis dan Zainuddin bersaing dalam mendapatkan cinta Hayati. Tapi sayang, keluarga Hayati lebih memilih Azis yang merupakan keturunan Minangkabau asli dan keluarganya juga berada. Zainuddin dianggap tidak lebih baik daripada Azis karena Zainuddin adalah anak campuran Minangkabau dan Bugis. Mendengar pernikahan antara Hayati dan Azis, membuat Zainudin jatuh sakit, akan tetapi berkat dorongan semangat dari Muluk. kondisi Zainudin berangsur-angsur membaik.



Kemudian Zainuddin dan Muluk pergi pulau ke Jawa, tinggal pertama kali di Batavia sebelum akhirnya pindah ke Surabaya. Di perantauan, Zainuddin menjadi penulis yang terkenal, nah di Jakarta inilah zainuddin mengetahui ada kapal Van Der Wijck. Karena alasan pekerjaan, Azis juga pindah ke Surabaya bersama Hayati. Seiring waktu berjalan, hubungan Azis dan Hayati tidak baik lagi. Pertemuan  pertama mereka di Surabaya adalah ketika Aziz dan Hayati dating menghadiri acara opera yang ceritanya berdasarkan novel karangan zainuddin. Setelah Aziz dipecat, mereka terpaksa menginap di rumah Zainuddin.

Seiring waktu, Aziz menyadari bahwa Zainuddin lebih pantas untuk Hayati. Akhirnya Aziz memutuskan untuk pergi ke Banyuwangi, dan dia meninggalkan sepucuk surat yang berisi surat cerai. Kemudian Azis mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Rasa cinta Zainudin pada Hayati sebenarnya masih kuat, akan tetapi mengingat Hayati itu sudah menikah dan bersuami, cinta yang masih ada itu terpaksa harus ia pendam dalam-dalam. kemudian Hayati dibiayai untuk pulang ke kampung halaman di Batipuh, Sumatra Barat. Esok harinya, Hayati berangkat dengan sebuah kapal yaitu Van der Wijck. Kapal ini kemudian tenggelam di pesisir utara pulau Jawa.

Setelah mengetahui kabar tersebut, Zainuddin dan Muluk pergi ke  untuk mencari Hayati, akhirnya ditemukan dia  berada di sebuah rumah sakit di Cirebon. Setelah beberapa waktu, Hayati akhirnya meninggal di rumah sakit tersebut setelah melewati waktu bersama Zainuddin.

Pemilihan tokoh menurut saya bagus, peran sang artis sangat natural dan menjiwai. Latar waktu dan suasananya juga tepat, sangat menggambarkan tahun 30-an. Jalan ceritanya bagus dan tidak pasaran
Film ini sebenarnya cukup bagus. Namun dari segi judul film ini lebih menonjolkan kisah percintaan antara Zainuddin dan Hayati, tidak menceritatakan tentang kapal Van Der Wijck nya. Lagu yang digunakan juga tidak sesuai dengan tahun 30-an. dan Penyebab kapalnya tenggelam juga tidak jelas