Minggu, 05 April 2015

review perahu kertas 2

Cinta tak semudah seperti membalikan telapak tangan

setelah berpisah cukup lama, dua “Agen Neptunus” yaitu Kugy dan Keenan bertemu kembali di acara pernikahan Eko (Fauzan Smith) dan Nonu (Sylvia Fully R).Keempat kawanan “Pura-pura Ninja”ini merayakan reuni kecil. Masing2 yg udah punya pacar baru, Kugy dengan Remi, dan Keenan dengan Luhde, biar bagaimana seneng luar biasa karena akhirnya bisa dipertemukan lagi. Sejak itu mereka pun jadi deket lagi, ngelanjutin kerjasama mereka dalam nulis dongeng dangambar ilustrasinya. Kedekatan yang bikin pihak lainnya merasa dikesampingkan, terutama Remi yang rada2 posesif, begitu kuatirnya kalo ga ada kabar dari Kugy berapa jam aja.
Kisah terus bergulir Keenan memutuskan tinggal di Jakarta dan melanjutkan bisnis keluarga akibat stroke yang diderita ayahnya, Adri (August Melasz), menjalani hubungan kasih jarak jauh dengan Luhde yang tinggal di Bali.  

Hingga momen2 yg menentukan terjadi. Remi ketemu dengan Keenan, dan Kugy ketemu Luhde, kemudian masing2 menyadari hubungan yg lainnya.  Sementara Kugy menjalani semakin karib dengan Remi, atasannya di biro Iklan AdVocaDo. Konflik muncul pertemuan kembali Keenan dan Kugy memunculkan kembali ide mereka berdua, Kugy menulis cerita anak dan Keenan membuatkan ilustrasi. Kemudian Remi ngasih Kugy cincin, secara informal mengajukan tunangan. Kugy yg bingung karena belom bisa nentuin sikapnya, sempet ngumpet di rumah kakaknya, hingga akhirnya Keenan datang. Meskipun mengakui perasaannya ke Kugy, Keenan bilang kalo momen utk mereka sudah lewat, dan bahwa Kugy mestinya menerima Remi. 

Sekilas kelihatannya keadaannya stabil. Tapi tidak. Remi kemudian sadar kalau di hati Kugy selalu ada bayang-bayang Keenan, dan karenanya dia pun melepaskan Kugy. Begitu juga dengan Luhde, dia menyuruh Keenan pergi karena hati Keenan tidak untuknya, or semacam itulah. Dan di epilog meskipun ga ditunjukin secara eksplisit, Kugy pun akhirnya bersama Keenan.
Secara keseluruhan Perahu Kertas sebetulnya tidak punya tokoh anatagonis. Iri hati atau kecemburu antar tokoh-tokohnya tidak terlalu berlebihan. Sekalipun sebetulnya cinta antara Kugy dan Keenan memberikan tanda tanya buat saya hampir tak ada penghalang yang kuat (dalam arti status sosial, ketidaksetujuan keluarga, perbedaan agama dan seterusnya),
Oh, saya lagu soundtrack-nya juga menarik. Akting nangisnya Maudy Ayunda kayaknya kurang greget, jadinya saya tdak berasa ikut sedih. Mungkin saya terlalu sering nonton film horror kali ya, . Padahal di seri dua ini scene nangisnya dia banyak banget. Sedankan Adipati, ekspresinya agak kurang. Untung chemistry antara Maudy dan Adipati lumayan dapet, cukup nolong sih. Dan paling bagus tetep aktingnya Reza Rahardian. Doi keren banget. Ekspresinya dapet semua.

Rabu, 04 Maret 2015

CINTA TAK TERBALAS

Satu lagi film yang diangkat dari novel terkenal akan dirilis tahun ini yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini diadaptasi dari novel dengan judul sama karya sastrawan terkenal Buya Hamka pada tahun 1938. Novel ini bercerita tentang kisah cinta dua insan, tapi dipisahkan oleh tradisi adat. Ada dua adat yang ada dalam novel ini yaitu Budaya Minangkabau dan Budaya Bugis. Sang penulis Buya Hamka beranggapan bahwa beberapa tradisi adat tersebut tidak sesuai dengan dasar-dasar Islam ataupun akal budi yang sehat.

Cinta yang dirasakan Zainuddin adalah cinta yang tidak sampai karena terhalang oleh adat yang sangat kuat. Cinta ini bermulai ketika Zainuddin sudah tidak punya orang tua lagi atau yatim piatu. Ayah Zainuddin adalah suku Minangkabau asli, dia diasingkan dan dibuang ke Makassar karena telah membunuh seseorang kerabat yang disebabkan masalah warisan. Ayah Zainuddin meninggal di Makassar. Ibu Zainuddin adalah suku bugis (orang Makassar), yang meninggal sebelum wafatnya ayah Zainuddin.Pada awalnya Zainuddin tinggal di Makassar dengan  teman ayahnya, Mak Base. Kemudian Zainuddin pindah ke Batipuh Kabupaten Tanah Datar di Sumatra Barat.
Karena Zainuddin adalah campuran orang Minangkabau dan Bugis, banyak perlakuan buruk yang ditujukan kepadanya, baik di Makassar maupun di Minangkabau, karena kuatnya adat istiadat masyarakat pada saat itu. Salah satu diskriminasi yang dirasakan Zainuddin adalah ketika dia mencintai Hayati yang merupakan seorang anak dari bangsawan Minangkabau. Karena kecewa,  Zainuddin kemudian  pindah ke Kota Padangpanjang yang berjarak sekitar 10 km dari Batipuh. Zainuddin tetap melakukan surat-menyurat dengan Hayati. Hayati lalu datang ke Padangpanjang, karena dia ingin bertemu Zaiuddin di acara balapan kuda. karena dia punya seorang kawan yang bernama Khadijah, lalu Hayati menginap di rumahnya. Khadijah mempunyai kakak laki-laki yang bernama Aziz yang diam-diam naksir pada Hayati.

Karena bermukim pada satu kota (padangpanjang) akhirnya Azis dan Zainuddin bersaing dalam mendapatkan cinta Hayati. Tapi sayang, keluarga Hayati lebih memilih Azis yang merupakan keturunan Minangkabau asli dan keluarganya juga berada. Zainuddin dianggap tidak lebih baik daripada Azis karena Zainuddin adalah anak campuran Minangkabau dan Bugis. Mendengar pernikahan antara Hayati dan Azis, membuat Zainudin jatuh sakit, akan tetapi berkat dorongan semangat dari Muluk. kondisi Zainudin berangsur-angsur membaik.



Kemudian Zainuddin dan Muluk pergi pulau ke Jawa, tinggal pertama kali di Batavia sebelum akhirnya pindah ke Surabaya. Di perantauan, Zainuddin menjadi penulis yang terkenal, nah di Jakarta inilah zainuddin mengetahui ada kapal Van Der Wijck. Karena alasan pekerjaan, Azis juga pindah ke Surabaya bersama Hayati. Seiring waktu berjalan, hubungan Azis dan Hayati tidak baik lagi. Pertemuan  pertama mereka di Surabaya adalah ketika Aziz dan Hayati dating menghadiri acara opera yang ceritanya berdasarkan novel karangan zainuddin. Setelah Aziz dipecat, mereka terpaksa menginap di rumah Zainuddin.

Seiring waktu, Aziz menyadari bahwa Zainuddin lebih pantas untuk Hayati. Akhirnya Aziz memutuskan untuk pergi ke Banyuwangi, dan dia meninggalkan sepucuk surat yang berisi surat cerai. Kemudian Azis mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Rasa cinta Zainudin pada Hayati sebenarnya masih kuat, akan tetapi mengingat Hayati itu sudah menikah dan bersuami, cinta yang masih ada itu terpaksa harus ia pendam dalam-dalam. kemudian Hayati dibiayai untuk pulang ke kampung halaman di Batipuh, Sumatra Barat. Esok harinya, Hayati berangkat dengan sebuah kapal yaitu Van der Wijck. Kapal ini kemudian tenggelam di pesisir utara pulau Jawa.

Setelah mengetahui kabar tersebut, Zainuddin dan Muluk pergi ke  untuk mencari Hayati, akhirnya ditemukan dia  berada di sebuah rumah sakit di Cirebon. Setelah beberapa waktu, Hayati akhirnya meninggal di rumah sakit tersebut setelah melewati waktu bersama Zainuddin.

Pemilihan tokoh menurut saya bagus, peran sang artis sangat natural dan menjiwai. Latar waktu dan suasananya juga tepat, sangat menggambarkan tahun 30-an. Jalan ceritanya bagus dan tidak pasaran
Film ini sebenarnya cukup bagus. Namun dari segi judul film ini lebih menonjolkan kisah percintaan antara Zainuddin dan Hayati, tidak menceritatakan tentang kapal Van Der Wijck nya. Lagu yang digunakan juga tidak sesuai dengan tahun 30-an. dan Penyebab kapalnya tenggelam juga tidak jelas